‘Cangkrukan’ APP bersama Romo Wahyo di Lingkungan St. Agustinus

cangkrukan-di-agustinusTidak seperti biasanya SMS undangan lingkungan dari Bapak Harjito (Sekretaris Lingkungan St. Agustinus) ada kata ‘cangkrukan’ yang dapat saya artikan berkumpul dan ngobrol dalam suasana santai (sebelumnya menggunakan istilah Reboan).  Seperti di lingkungan yang lain di Paroki Katedral Malang, pada masa prapaskah ini diadakan acara Pendalaman Iman Aksi Puasa Pembangunan. Dihadiri sekitar 20 umat lingkungan, bertempat di rumah keluarga Ibu Susanto di kawasan Jalan Gajayana pada hari Rabu, 30 Maret 2011, acara ‘cangkrukan’ APP dimulai pada jam 18.50 (terlambat 20 menit dari undangan). Acara yang dihadiri oleh Romo Antonius Suwahyo, Pr. yang akrab disapa Romo Wahyo, dikemas dengan model ngobrol bareng atau dalam bahasa Jawa disebut Cangkrukan, alasan Romo kurang lebih mengajak umat yang hadir untuk mengikuti Pendalaman Iman ini dalam suasana santai dan tidak formal. Acara dibuka dengan tanda Salib, kemudian Romo menjelaskan materi yang telah dibagikan sebelumnya tentang Sakramen. Menurut penjelasan Romo, asal-usul sakramen yang kita kenal sekarang ini lahir dari praktek (=penghayatan) iman, bukan dari teori-teori teologis yang kemudian dilaksanakan. Karena itu, titik tolak menemukan sumber teologi sakramen adalah praktek perayaan sakramen dalam hidup Gereja perdana. Sakramen adalah peristiwa konkret duniawi yang menandai, menampakkan dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah (=Allah yang menyelamatkan). Maka melalui tanda-tanda badaniah (sakramen) terungkaplah sesuatu yang lebih dalam daripada perbuatan-perbuatan konkret yaitu jiwa dan sikap rohani kita. Konsekuensi praktisnya adalah perbuatan manusiawi/gerejawi yang melambangkan suatu tindakan Allah terhadap kita harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh sehingga bisa dirasakan. Dalam setiap poin/kalimat, Romo memberi kebabasan kepada umat untuk menanggapi dan sharing/berbagi pengalaman. Dengan antusias umat menanggapi, ada yang singkat-singkat saja, ada juga yang berbagi pengalaman pribadi dan lingkungan, ini membuat suasana ‘cangkrukan’ kali ini terasa lebih hidup dan santai, meskipun materinya sedikit namun waktu yang disediakan selama satu setengah jam masih kurang, hingga molor menjadi dua jam. Acara diakhiri dengan makan malam sambil ‘cangkrukan’ lebih santai lagi sambil bersenda gurau hingga tertawa terpingkal-pingkal, menyaksikan dan mendengarkan sharing umat yang cukup gayeng ini. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 9.30 WIB, acara ditutup dengan doa oleh Bapak JP. Sampurno dan berkat oleh Romo Wahyo. Semoga suasana pendalaman iman dengan model ‘cangkrukan’ ini membuat umat semakin rajin menghadiri pendalaman iman di lingkungan. Amin, (adr).

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>