MAKNA PUASA DAN PANTANG (part 1)
Dasar Biblis : Mat 4:3-4 (pencobaan Yesus pertama setelah berpuasa), Mrk 13:31 (langit dan bumi akan berlalu,namun SabdaKu tidak akan berlalu).
MENGAMATI PERISTIWA SEHARI-HARI.
Pernahkah seekor kucing kolesterol? Tidak, karena mereka tahu apa yang harus dimakan dan apa yang tidak. Apakah kucing mengerti aturan pantang dan puasa? Tanyalah sendiri, yang jelas kucing menikmati hidupnya sebagai kucing dengan mampu ‘memilih’ yang perlu untuk hidupnya, makan hanya yang menjadi makanannya, sehingga kucing tidak pernah kelebihan berat badan, berjalan dengan indah, selalu manis dsb.
Apakah kulkas/lemari makan di rumah kita penuh dengan makanan dan kita dapat menikmatinya saat makan karena mampu ‘memilih’ jenis makanan sesuai kebutuhan. Atau tidak menikmati apa-apa karena ingin menikmati semuanya. Apakah tidak mampu menikmati makanan karena makan sebagai pelarian akibat stres / frustasi karena berbagai macam persoalan hidup?
Dua peristiwa di atas adalah soal kemampuan untuk membuat ‘pilihan’, khususnya hal memilih makanan. Ketidak mampuan memilih membuat manusia tidak mampu hidup secara utuh (hidup terpecah).
GEREJA MENGANGKAT PERISTIWA MAKAN/MAKANAN.
Selama masa prapaskah, peristiwa makan/makanan menjadi ’simbol’ yang digunakan oleh Gereja, dan ditrapkan dalam aturan pantang/puasa.
Pertanyaan reflektif: sementara dunia menawarkan berbagai hal menarik kenapa Gereja menawarkan pantang dan puasa? Sementara berbagai keinginan muncul di dalam hidup kita, kenapa kita puasa dan pantang? Bukankah tanggapan terhadap hal-hal menarik duniawi dan keinginan-keinginan manusiawi adalah tanda bahwa manusia benar-benar hidup? Dengan memiliki keinginan maka manusia mempunyai ‘energi’ dalam mengembangkan kehidupan dari Allah?
Naahh….dengan menghayati pantang dan puasa selama masa prapaskah, Gereja mengajak kita semua untuk ‘mengenal‘ berbagai keinginan dalam diri sebagai reaksi terhadap tawaran duniawi; lalu ‘memahami’ keinginan itu, agar mampu ‘memilih’ keinginan untuk menunjang hidup secara utuh. Usahakan tidak ‘menekan’ keinginan karena semakin ditekan akan membuat manusia menderita dan terpecah. Pengalaman berpantang dan berpuasa adalah sarana ‘latihan spiritual’ untuk mampu melakukan M3 (mengenal, memahami, memilih) sesuai kehendak Allah. Demikianlah Gereja menawarkan satu jalan untuk hidup secara utuh melalui pantang dan puasa. Gereja menamakannya masa ‘Retret Agung’ yang memiliki aspek ‘personal’ sekaligus ‘universal’.
Betapa sederhana metode mengajar Gereja. Bila kita mampu mengenal/memahami/memilih ‘keinginan’ untuk makan/makanan yang terlihat oleh mata maka perlahan-lahan kita mampu melakukan hal yang sama untuk hal-hal yang tidak kelihatan namun bermunculan didalam diri kita.
MENIKMATI RAHMAT DI MASA RAHMAT.
Selain hal di atas, Gereja memberi kesempatan kepada kita semua untuk ‘menikmati rahmat dimasa rahmat’ dalam rangka ‘pembaharuan rohani’ agar hidup tidak terpecah-pecah.
Puasa dan pantang bukan hanya ‘discernement’ untuk memilih makanan yang boleh di makan atau tidak; namun merupakan masa di mana rahmat Allah memenuhi hidup kita, sehingga kita hidup penuh baik aspek manusiawi maupun Kristiani. Tanpa rahmat Allah kita cenderung tidak setia dan terpecah. Melalui pantang dan puasa kita dibawa masuk dalam ’suasana doa’ bukan hanya berdoa, karena Allah ‘tinggal’ di dalam diri kita sehingga kita tidak perlu ‘memohon’ rahmat kepada Allah, kita tinggal ‘menikmati’ saja; yang memampukan kita untuk memilih yang terbaik bagi diri kita sendiri dan demi kemuliaan Allah.
Melalui pantang dan puasa, kita boleh mengalami buah-buah terbaik dari masa rahmat tersebut seperti yang telah dialami oleh Yesus setelah berpuasa.
Marilah kita bersyukur atas kekayaan hidup menggereja, karena kita boleh hidup dalam rahmat Allah secara penuh selama 40 hari masa prapaskah. 325 hari lainnya adalah masa rahmat, yang juga akan kita nikmati masa permasa; liturgi Gereja menghidangkannya secara liturgis, kita tinggal menikmatinya saja karena Allah tinggal dalam diri kita dan mencurahkan ratmatNya setiap saat secara gratis.
Dengan pantang dan puasa yang jasmani, kita menikmati yang rohani secara gratis.



Leave a Reply