Hendaknya Mata Hati Selalu Terbuka
Mata hati yang terbuka lebar-lebar memungkinkan kita melihat, mengendapkan, dan menghayati kebenaran ilahi. Kemungkinan itu terjadi, tentunya, atas perkenanNya sebagai anugerah belas kasihNya.
Dalam berdoa yang khusyuk sering kita menutup mata, lebih-lebih dalam suasana hening setelah menyambut Komuni Suci, untuk mengalami kedekatan dan kesatuan hati dengan Dia yang selalu merindukan kebahagiaan manusia.
Pada waktu Tuhan Yesus menyembuhkan mata orang buta sejak lahir, dengan mengoleskan adukan tanah dan ludahNya ke mata dan kemudian memintanya untuk dibasuh di kolam Siloam, Dia tidak berhenti pada penyembuhan mata ragawi, namun diteruskan hingga penyembuhan mata hati secara tuntas. Sekalipun terbukanya mata inderawi merupakan anugerah dan mukjizat besar, tetapi Dia juga membuka hati sehingga mantan orang buta dapat mengenal Penyembuhnya sebagai Anak Manusia, Sang Mesias sendiri. Sungguh, kebahagiaan ganda yang tak terhingga!
Kebahagiaan hidup, sebaliknya, tidaklah dialami oleh sebagian orang Farisi, sekalipun dengan mata terbuka bagi hal-hal kasat mata, namun justru tertutup hatinya bagi kebenaran ilahi. Ketertutupan tersebut disebabkan oleh cara pandang mereka yang salah, dengan lebih melihat bungkus daripada isi, lebih menghargai kemasan daripada substansi, sehingga berani menyatakan bahwa peristiwa penyembuhan mata orang bua adalah perbuatan dosa karena dilaksanakan pada hari Sabat, hari di mana mereka harus beristirahat total, bahkan juga untuk berbuat baik apapun juga kepada sesama.
Alangkah indahnya jika kita selalu membuka mata hati. (A.S.)
Berkat Minggu edisi 3 April 2011
Leave a Reply