CINTA KASIH MEMILIKI ……
Bila Paskah benar-benar meraja di hati, maka kita dapat merasakan bagaimana Yesus mengasihi kita.
Kasih Yesus mulai dari hal-hal biasa, antara lain mencuci kaki. Yesus menikmati pemberian diriNya tersebut walau tidak dimengerti oleh para murid, bahkan Petrus minta dibasuh kaki, tangan dan kepala.
Ungkapan kasih Yesus yang lain adalah berdoa agar tidak jatuh dalam pencobaan. Mengajak para murid berdoa di Getsemani, walau mereka tertidur.
Yesus setia berdoa dalam kesendirian, menyatu dengan alam Getsemani, tanpa siapa-siapa, Yesus menikmati kesendiriannya dalam doa, menghadapi situasi yang menakutkan, demi menebus kita. Sekali lagi, begitulah Yesus mengungkapkan kasihNya.
Kita yang mencintai Yesus tahu bahwa puncak dari kasih Yesus adalah penyaliban DiriNya sendiri di Golgota. Salib adalah realitas cinta Yesus, di sana ada pengorbanan, kesendirian, penghinaan, pengampunan, belas kasih dan penebusan.
Cinta kasih Yesus tidak pernah kering, walau menanggung salib kita, begitu banyak… dan berat ……. Yesus bukan hanya memiliki cinta kasih. Namun cinta kasih memiliki Yesus.
Begitulah hidup Yesus, begitu pula hidup kita yang mengikuti Yesus. Kita tidak hanya memiliki cinta kasih, namun cinta kasih memiliki kita.
Bila manusia memiliki cinta kasih, maka ada kecenderungan untuk memilih-milih atau menghitung-hitung dalam membagikan cinta kasih kepada Allah dan sesama. Manusia cenderung mendua dalam cinta kasih, karena manusia menjadi ‘driver’ untuk cinta kasih yang ada dalam dirinya.
Bila cinta kasih memiliki manusia, maka cinta kasihlah yang menjadi ‘driver’ bagi manusia, memampukan kita mencintai Allah dan sesama dengan bebas sebagai Anak-Anak Allah. Kita dapat menikmati persahabatan tanpa ada ikatan emosional. Kita dapat melayani tanpa pamrih. Kita dapat menjadi pimpinan tanpa cari nama. Kita dapat menjadi orang biasa-biasa saja tanpa ada rasa minder. Bila dipuji orang yaaa… bersyukur, bila tanpa pujian selalu bersorak ‘allelluia’.
Tidak ada sakit hati, kecewa, marah dan sejenisnya, yang ada hanyalah menikmati keindahan hidup dengan gembira.
Bila cinta kasih menyetir kita, maka semua peristiwa yang telah Yesus alami lebih dahulu, mulai dari kemiskinan ekstrim di Betlehem, kehebatan dan tantangan Yesus saat berkarya, sampai puncak penderitaan di Golgota, mampu kita terima dengan damai, sambil terus berdoa memuji memuliakan Allah dalam kegembiraan.
Biarkanlah cinta Yesus menyetir hidupmu. Biarkan kasih ilahi melingkupi hidup kita. Berhentilah menjadi ‘driver’ bagi diri sendiri, beri kesempatan Yesus menjadi ‘driver’ bagi hidup kita masing-masing sambil terus memuji Allah, dengan duduk tenang di samping Yesus.
(Yoh 15:9 : ” … tinggallah dalam kasihKu itu”). SELAMAT PASKAH, ALLELUIA.







Leave a Reply